Berdasarkan data statistik dari UNESCO, Indonesia berada di peringkat 60 dengan minat baca rendah dari total 61 negara. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua terbawah dan berada jauh daari negara-negara tetangga Indonesia. Rendahnya minat mebaca disebabkan dari berbagai faktor. Pada anak-anak terutama adalah kurangnya figur yang mencontohkan anak untuk rajin membaca, orang tua yang tidak membiasakan anak untuk membaca, kurangnya kemampuan anak membaca dan kurangnya fasilitas bahan bacaan yang layak untuk anak-anak.

 

Setiap permasalahan tentu terdapat solusi. Orang tua mungkin saja ingin membiasakan anak untuk membaca namun memiliki keterbatasan waktu atau keterbatasan ide untuk menstimulasi anak agar membaca. Anak juga perlu sesuatu yang menarik untuk memicu dirinya secara antusias tertari dan mau membaca meski tidak disuruh oleh orang tua.

 

Salah satu hal yang membuat anak tertarik adalah dengan permainan. Permainan dapat menstimulus anak melakukan sesuatu dengan senang hati. Dengan menyisipkan sebuah permainan yang akan membuat anak membaca merupakan salah satu cara yang bisa dicoba dan sudah terbukti oleh GuruBumi.

 

Sumber foto dari : Guru Sekolah SDIT Al Abrar Bendungan Hilir

 

Melalui permainan kartu kuartet, anak dengan sendirinya mencari informasi dengan membaca untuk bisa menyelesaikan permainan. Selain itu, kata-kata yang dibaca dalam permainan kartu kuartet, dengan sendirinya diserap dan dipahami oleh anak tanpa harus menghafal. Membiarkan anak terlibat dalam permainan edukatif yang berkaitan dengan membaca membuat anak dengan sendirinya melakukan kegiatan membaca itu sendiri. Jika cara permainan ini dilakukan, anak tanpa sadar telah membiasakan diri untuk membaca yang notabene adalah memperkaya informasi dan juga kosa kata.

 

Pada percobaan pertama dalam permainan kartu kuartet, anak mungkin saja tidak maksimal dalam menyelesaikan permainannya karena kurangnya informasi yang ia miliki, namun pada percobaan kedua ia sudah sedikit ada kemajuan dalam menyelesaikan permainannya karena ia menyerap informasi dan menggunakan pengalaman yang ia lakukan pada percobaan pertama. Orang tua juga bisa mengarahkan anak untuk membaca informasi tentang kebudayaan terlebih dahulu agar apa yang dibaca oleh anak dan informasi tersebut ada dalam permainan anak merasa senang dan menyelesaikan permainan dengan rasa puas. Dengan demikian, anak tidak merasa bosan membaca buku teks saja, tetapi ada permainan yang membuatnya merasa terhibur sekaligus tertantang.

 

Sumber foto dari : Komunitas Mbojo Tano (Bima)

Older Post Newer Post